Jakarta, 24/08/2021 KPAP.

Kemunculan teknologi-teknologi pada revolusi industri 4.0 (Artificial Intelligence, Big Data, Internet of Things, Cloud Computing dan Additive Manufacturing) merupakan fenomena kolaborasi antara teknologi siber dan teknologi otomatisasi, yang tentunya akan berdampak di berbagai sektor, tak terkecuali pada profesi akuntansi.

Bagaimana dengan profesi akuntansi kedepan? bagaimana persiapan profesi akuntansi untuk menghadapi serangan teknologi informasi kedepan? serta apakah benar profesi ini akan punah seperti yang telah dikabarkan pada media-media belakangan ini?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Komite Profesi Akuntan Publik (KPAP) mengangkat tema “Artificial Intelligence in Accounting and Auditing pada webinar series yang dilaksanakan dua hari berturut-turut pada tanggal 24 s.d. 25 Agustus 2021. Hari ini, KPAP sukses menyelenggarakan Webinar Series I yang berjudul Artificial Intelligence in Accounting and Auditing, Opportunities and Challenges. Hingga saat ini (24 Agustus 2021 pukul 20.45 WIB), webinar series I telah ditonton sebanyak 3.064 kali pada kanal YouTube KPAP.

KPAP menghadirkan empat narasumber pada webinar ini, yaitu Isnaeni Achdiat, (Partner Ernst & Young Indonesia), Dasrul Chaniago (Presiden CFO Club Indonesia), dan Syahraki Syahrir (Presiden ISACA Indonesia Chapter), dan Sudarto (Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi dan Teknologi Informasi, Kementerian Keuangan) dengan moderator Andar Ramona Sinaga (Sekretariat KPAP).

Ketua Penyelenggara webinar ini, Mahfud Sholihin, Anggota KPAP, menyampaikan bahwa webinar ini diselenggarakan dalam rangka merespon tantangan yang saat ini dihadapi oleh profesi akuntansi yang dapat merubah cara pandang dan proses bisnis profesi akuntansi dalam pemberian jasanya.

Menyambung Mahfud Sholihin, Firmansyah N. Nazaroedin selaku Ketua KPAP dan Keynote Speaker menekankan bahwa kehadiran Artificial Intelligence tentu tidak akan menghilangkan peran profesi akuntasi begitu saja. Namun profesi akuntansi perlu meningkatkan pemikiran kritis, keterampilan teknologi serta penilaian professional (Viorica Neacșu (2021).

Narasumber pertama, Isnaeni Achdiat memaparkan bahwa proses pada Artificial Intelligence adalah menanamkan kecerdasan di dalam logic-logic program atau aplikasi. Adanya penerapan berbasis Artificial Intelligence menuntut auditor untuk dapat memastikan bahwa aplikasi Artificial Intelligence memiliki integritas yang tinggi. Artificial Intelligence dapat membantu meningkatkan kualitas audit, tetapi di sisi lain terdapat risiko-risiko terkait AI diantaranya adalah adanya model bias, data quality, model variability, dan interpretasi output.

“Dasar dari Artificial Intelligence adalah intelligence. Adanya artificial menunjukan dua kali kehebatan manusia. Menerapkan Artificial Intelligence merupakan bagian dari rasa bersyukur kita atas berkah dari Tuhan Yang Maha Esa bahwa manusia dapat melipatgandakan kecerdasannya” jelas Isnaeni.

Dasrul Chaniago, narasumber kedua menjelaskan bagaimana Artificial Intelligence dapat membantu pimpinan perusahaan dalam 3 hal, antara lain benefit managing risk, process automation, dan business growth. Dengan implementasi Artificial Intelligence, akurasi, kecepatan, dan efisiensi dapat ditingkatkan sehingga membuat perusahaan semakin efisien. Pimpinan perusahaan perlu dibekali seperangkat kompetensi dan kemampuan mulai dari keuangan hingga teknologi, serta pemahaman yang komprehensif atas bisnis.

Selanjutnya narasumber ketiga, Syahraki Syahrir mengatakan bahwa penggunaan media paperless sehingga data yang digunakan softcopy, kompleksitas variasi data yang semakin meningkat, pengembangan system pada banya institusi masing sering bersifat silo, dan penerapan office application menjadi tantangan akuntansi dan audit. Syaraki juga mengajak profesi akuntansi untuk selalu menambah pengetahuan akan tren-tren baru yang relevan saat ini.

Sudarto sebagai narasumber terakhir menjabarkan pengembangan digitalisasi di Kementerian Keuangan khususnya penggunaan data science, artificial intelligence, dan machine learning.

Pada akhir pemaparannya, Sudarto menegaskan bahwa Kementerian Keuangan menempatkan Artificial Intelligence sebagai sesuatu yang sangat penting yang berbasis cost reduction, supporting pengambilan keputusan, peningkatan layanan, dan percepatan capacity building. Artificial Intelligence, Data Analytic, dan teknologi lainnya dapat meningkatkan produktivitas serta kualitas layanan untuk meningkatkan efisiensi dalam perkekonomian sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Penulis: Agee Fonzi Miradz | Penyunting: Ira Rani Puspa | Fotografer: Azzam Syahid Al Jundi

Bagikan Artikel ini

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on email
Email
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Terkait

Istilah Pertimbangan dalam Khasanah Hukum RI

Menurut Webster, istilah “Consideration“ mencakupi perhitungan (account), penasihatan (advisement), perdebatan, studi (telaah, mempelajari), diskusi dan pemikiran panjang dan dalam (deeliberation), refleksi (reflection) dan mawasdiri (introspection)

Read More »

Langganan Informasi dan Berita

  • Daftarkan email Anda untuk menerima informasi dan berita terbaru dari laman KPAP. Tekan enter atau klik tombol di bawah untuk menyimpan.

Sekretariat KPAP